Memenangkan Persaingan Bisnis Tidak Harus Unggul Dalam Segala Hal

Memenangkan Persaingan Bisnis Tidak Harus Unggul Dalam Segala Hal

573
memuat...

Harianpost.co.id“Siapa cepat, dia dapat”, kalimat-kalimat seperti itu sudah sangat umum sekali dalam dunia bisnis, sebab cara tersebut memang menjadi salah satu dari teknik marketing yang sampai sekarang masih banyak digunakan.

Strategi Persaingan Bisnis
Strategi Persaingan Bisnis – foto: pixabay.com

Itu wajar, bersaing dalam dunia bisnis itu seperti halnya kita sedang berkompetisi dalam kejuaraan lari cepat, yang lebih dulu mencapai garis finish dialah yang berhak mendapatkan pialanya. Begitu juga dalam persaingan bisnis, siapa yang lebih cepat menarik hati konsumen maka dialah yang akan lebih dulu merasakan gurihnya rupiah.

Tapi perlu diketahui, bahwa seorang pelari cepat tidak selalu akan menang juga jika mereka mengikuti kompetisi lari lainnya, seperti contohnya marathon.

Bicara soal akselerasi, sudah sangat jelas jika pelari cepat akan jauh lebih unggul dibandingkan dengan pelari marathon. Tapi jika kita bicara soal ketahanan, justru sebaliknya, pelari marathon bisa jadi akan lebih unggul dari pelari cepat.

Pelari cepat memang sudah melakukan setting pada semua tekniknya untuk bisa berlari secepat kilat dengan jarak dekat, 100 meter sampai 500 meter, paling mentok mungkin 1 km. Lebih dari jarak itu jelas semua pelari tidak akan ada yang finish, sebab sudah pada collapse di tengah jalan.

Lain halnya dengan pelari marathon yang memang juga men-setting teknik tersendiri untuk bisa berlari dengan jarak yang sangat jauh, lebih fokus pada ketahanan tubuh.

Pelari cepat berkompetisi di perlombaan marathon dengan menggunakan teknik lari cepatnya, akan hanya mengagumkan di awal-awal saja, dapat 1 km atau 2 km, pasti pada mokad. Sebaliknya, pelari marathon berkompetisi di perlombaan lari cepat dengan menggunakan teknik marathonnya, sudah pasti akan di over-lap dalam hitungan detik.

Apa yang bisa kita ambil dari contoh di atas?

Kedua pelari itu memang berlomba pada kejuaraan yang berbeda, yang satu lari cepat dan satunya lagi lari marathon. Tapi sadarkah kita bahwa mereka berdua itu adalah atlet di bidang yang sama, yang tak lain adalah sama-sama di bidang lari.

Terus, apa hubungannya dengan persaingan bisnis? Nah ini yang akan menjadi inti pembahasan kita.

Dan sekarang kita tidak lagi bicara tentang gaya persaingan “siapa yang cepat dia yang dapat” seperti yang sudah penulis sebutkan di awal tadi, tetapi sekarang kita sudah bicara soal merk.

Contoh, pernah makan mie instan kan ya? Sekarang ada berapa banyak merk mie instan diluar sana? Banyak sekali. Ada indomie, mie sedaap, sarimi, mie sukses, mie duo, ah tidak terhitung jumlahnya. Lantas pertanyaannya siapa yang paling banyak konsumennya? Ya jelas saya tidak tahu. Yang penulis tahu hanyalah mereka sama-sama makanan dari mie tapi merknya berbeda.

Tapi sadarkah kita bahwa beberapa diantara merk mie instan yang sudah penulis sebutkan itu ada yang sudah berdiri puluhan tahun lamanya? Yang mana? Jelas indomie dan sarimi yang paling lama. Dan sempatkah juga kita berpikir bagaimana mereka bisa bertahan selama itu? Padahal jika dilihat, diraba dan dirasakan, mie sedaap sebagai pesaing baru memiliki lebih banyak keunggulan. Dan coba kita teliti lagi, ada juga beberapa merk mie instan yang juga masih baru bahkan sangat baru, yaitu mie sukses.

Tapi sayangnya, pemasaran mie sukses bisa dibilang tidak sesukses namanya, atau mie duo yang sekarang nyaris hilang dan jarang kita lihat merk itu di toko-toko.

Intinya, dari masing-masing produsen mie itu mempunyai teknik memasarkan produk yang berbeda sekalipun sama-sama menyajikan makanan mie. Mereka lebih membidik pada konsumen tertentu yang nantinya akan menjadi pelanggan setia mereka meskipun banyak merk-merk mie lain berhamburan muncul.

Teknik yang bagaimana?

Teknik penelitian pada konsumen (riset), atau pendekatan pada pelanggan untuk mencari tahu apa yang mereka butuhkan dan apa yang mereka inginkan sehingga merk yang kita keluarkan bisa terasa lebih dekat dengan mereka. Kita pasti sudah paham bahwa setiap orang itu seleranya berbeda, iya kan?

Nah selera konsumen inilah yang nantinya akan dijadikan kunci oleh perusahan-perusahaan mie instan untuk bisa mengeluarkan produk mie dengan merk baru.

Mungkin kita tidak pernah satu kalipun membayangkan betapa pentingnya mengetahui selera masyarakat terhadap merk produk. Tapi jangan salah bahwa teknik mengenali selera masyarakat ini bisa dipakai untuk berbagai jenis produk atau jenis bisnis yang kita jalankan.

Nanti anda akan tahu sendiri hubungannya dimana, terus lanjut baca dan pahami baik-baik.

Perlu kita sadari juga bahwa masyarakat selaku konsumen itu tidak asal dalam mengenal merk, soal merk mereka punya ribuan alasan sebelum memutuskan untuk memakai merk tertentu. Pasti banyak sekali cara mereka untuk mengenali merk-merk itu tadi.

Jangan dikira hanya dengan melakukan promosi yang gencar lantas berharap masyarakat bisa langsung penasaran dan membelinya, sebab tidak banyak orang-orang yang mencoba merk baru dengan cara membelinya.

“Dari pada nyesel karena coba-coba mending tidak usah saja lah”, pemikiran seperti ini hampir selalu ada dalam benak konsumen.

Terlebih lagi kita hanya mengeluarkan merk baru, bukan produk baru. Jadi otomatis konsumen yang sudah merasa nyaman dengan merk lama, akan cenderung memilih untuk bertahan pada merk yang sudah mereka kenal dengan baik dan mungkin saja sudah pas alias cocok bagi mereka.

Jadi jika kita ingin menjalankan bisnis yang sama dengan pesaing kita kenali dulu tipe-tipe masyarakat itu bagaimana dalam mengenal merk baru. Jika disimpulkan ada tiga jenis konsumen disini:

  • Konsumen yang hanya mengenal merk-nya saja, tidak ingin tahu lebih dari itu. Ini dari produk apa, di mana kantornya, kualitasnya bagaimana, dan lain-lain, mereka cuek.
  • Konsumen yang mengenal merknya dan ingin tahu itu produk dari mana.
  • Konsumen yang mengenal merk dan tahu ingin semua tentang merk itu, produsennya siapa mereka tahu, kantornya dimana mereka juga tahu, bahkan SDM-nya bagaimana mereka kadang juga tahu.

Nah dari tipe-tipe konsumen di atas konsumen yang mana yang akan jadi bidikan kita, tapi sudah jelas kalau kita pasti ingin merangkul semuanya. Tapi setidaknya kita tahu apa yang harus kita lakukan untuk bisa memperkenalkan merk baru itu dan agar lebih dekat dengan mereka.

Sedangkan untuk bisa tetap bersaing dalam jangka waktu yang sangat lama, kita tidak perlu harus membabi buta melakukan sesuatu hanya agar bisa unggul di segala sisi. Cukup fokus dengan mengetahui bagaimana selera masyarakat tertentu dan masyarakat dengan selera yang bagaimana yang akan menjadi target kita, itu sudah menjadi kunci penting.

Masih ingat contoh mie instan tadi kan?

Masing-masing merk mie instan itu punya ciri khas tersendiri, dan mereka punya target sendiri-sendiri yang menjadi pelanggan setia. Orang dengan selera masakan gurih akan memilih indomie, orang dengan selera sedap pilih mie sedap, orang dengan selera yang sedikit asin memilih sarimie.

Dengan begitu, merk yang mereka keluarkan akan benar-benar pas di lidah, dan jika sudah begitu akan sangat sulit merayu mereka untuk pindah ke lain hati.

Begitu juga dengan bisnis lainnya, HP misalnya, orang yang sudah terlanjur fanatic dengan merk Samsung, akan berpikir panjang jika harus membeli merk lain, orang yang sudah terlanjur cinta dengan Apple juga pasti akan nyinyir jika disuruh untuk mencoba beli merk lain, begitu seterusnya.

Contoh lain lagi, bisnis minuman, Aqua punya pelanggan setianya, coca cola juga punya pelanggan setia, bahkan sprite yang sensasi kesegarannya hampir sama dengan coca cola juga punya pelanggan setia sendiri. Keberhasilan mereka bertahan dalam persaingan dengan merk-merk baru tak lain juga dengan menerapkan system yang sebenarnya sangat simple, yaitu mengenali selera masyarakat tertentu yang kemudian dijadikan target mereka.

Mau contoh lagi, warung. Mereka sama-sama menjual makanan tapi makanan yang berbeda. Satu warung makan dengan nasi putih dan satu lagi warung makan nasi thiwul (nasi yang dicampur dengan ketela).

Sasaran mereka sudah jelas berbeda.

So intinya, untuk menjalankan bisnis yang sama dengan pesaing kita tidak harus mengungguli mereka dari segala sisi walaupun sebenarnya itu bagus. Tapi unggul satu hal saja sudah bisa dijadikan peluang untuk mengembangkan usaha kita. (www.harianpost.co.id)

Komentar

Loading...