Janji Jokowi Kembali Dipertanyakan Keluarga Korban Tragedi 98 Melalui Kerajinan

Janji Jokowi Kembali Dipertanyakan Keluarga Korban Tragedi 98 Melalui Kerajinan

158

Setahun-Pemerintah,-Jokowi ditunding-Seringkali-Salahkan-Rezim-Sebelumnya--

Harianpost.co.id – Keluarga korban tragedi kerusuhan di Yogya Plaza, Klender, Jakarta Timur pada 14 Mei 1998 menagih janji Presiden Joko Widodo untuk menuntaskan masalah hukum dalam tragedi yang telah menewaskan sanak saudara mereka. Meerka menggunakan cara yang berbeda yakni menggunakan kerajinan tangan.

Berbagai pesan seperti ‘Masih Ingat Mei 98’, ‘Menolak Tunduk’, ‘Diskusi Jangan Main Hakim Sendiri’, hingga ‘Hapus Impunitas’ disampaikan dalam rupa dompet, syal, dan tempat alat tulis. Harapannya, Presiden Joko Widodo segera merealisasikan janji penuntasan seluruh kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM) masa lalu.

Yogya Plaza menjadi salah satu lokasi kerusuhan terparah pada 14 Mei 1998. Kala itu pusat perbelanjaan ini dijarah dan dibakar. Ratusan orang yang berada di dalamnya terperangkap dan terbakar hidup-hidup. Ruyati Darwin menuntut keadilan atas tragedi yang telah merenggut nyawa anak sulungnya. Dalam kerusahan tersebut, Ruyati harus kehilangan anaknya, Eten Karyana, yang tengah mengenyam pendidikan di Jurusan Sastra Prancis Universitas Indonesia.

“18 tahun saya tidak mendapatkan kepastian. Hukum di Indonesia harus ditegakkan,” kata Ruyati saat menghadiri diskusi yang digelar Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan, di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (28/5).

Sementara itu, Maria Sanu juga mencari keadilan bagi putranya, Stefanus Sanu. Dia meminta Presiden Jokowi tidak hanya diam membiarkan keluarga korban kasus pelanggaran HAM masa lalu terus menggelar aksi unjuk rasa di depan Istana Merdeka setiap hari Kamis.

Puluhan keluarga korban pelanggaran HAM masa lalu sejak tahun 2007 selalu berdiri di depan Istana Merdeka setiap hari Kamis. Aksi yang dikenal dengan sebutan ‘Kamisan’ itu bertujuan untuk meminta penuntasan masalah hukum yang adil dari pemerintah.

“Setiap Kamis kami berdiri di depan Istana selama satu jam, mengapa Presiden tidak pernah melihat kami? Ini sudah kami lakukan dari rambut masih hitam sampai putih, dari gigi masih ada sampai ompong begini,” kata Maria sambil meneteskan air mata.

Sedangkan Ameh, kakak dari Muhammad Ikwan dan Mulyani yang ikut menjadi korban tragedi kerusuhan di Yogya Plaza meminta pemerintah tidak lupa untuk menghadirkan keadilan bagi keluarga korban pelanggaran HAM masa lalu. Dia berjanji akan terus menagih janji Presiden Jokowi untuk menyelesaikan seluruh pelanggaran HAM masa lalu.

“Semoga dalam waktu dekat perjuangan ini dapat berhasil,” kata Ameh.

Baca juga:

Presiden Jokowi Ucapkan Selamat Tahun Baru Imlek Lewat Twitter Resmi

Laris Manis, Followers Instagram Jokowi Membludag

 

Komentar

Loading...