Grindr, Aplikasi Prostitusi Paedofil Gay

Grindr, Aplikasi Prostitusi Paedofil Gay

249

Grindr, Aplikasi Prostitusi Paedofil Gay

Grindr, diselidik dan dinyatakan oleh Penyidik Badan Reserse Kriminal Polri sebagai salah satu aplikasi kencan di telepon seluler pintar yang dikenakan oleh pelaku prostitusi anak untuk pelanggan homoseksual. Aplikasi itu dapat diunduh di App Store untuk iOS dan Google Play untuk Android.

Kepala Subdirektorat Cyber Crime Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Badan Reserse Kriminal Polri, Komisaris Besar Himawan Bayu Aji, menyatakan aplikasi yang dikenal eksklusif untuk pria penyuka sesama jenis kelamin dan biseksual itu masih digunakan oleh komplotan prostitusi online dalam mencari pelanggan.

“Nanti di-post fotonya. Kemudian dengan profilnya, bisa dicek di situ,” ujar Himawan saat dihubungi, Kamis (8/9).

Aplikasi kencan itu hanya menyediakan foto, profil, dan data pribadi pemilik akun. Sedangkan untuk harga, Grindr menyediakan layakan supaya calon pelanggan bisa berkomunikasi secara langsung dengan mucikari.

“Jejaring sosial itu hanya menyajikan foto, profil, dan data pribadi pemilik akun. Sementara untuk harga, calon pelanggan berkomunikasi langsung dengan mucikari”, terang Himawan.

Dengan adanya Grindr, pelanggan lebih mudah menemukan para korban dengan kata kunci tertentu. Bukan menyepakati harga namun hanya mengetahui nama dan umurnya saja.
Ia mengutarakan bahwa pihaknya telah meminta Kementerian Komunikasi dan Informatika menyelisik kembali penggunaan aplikasi Grindr di Indonesia.

Sampai saat ini, penyidik Bareskrim sudah meringkus tiga tersangka lain berinisial U, AR dan E. AR dan U disangka berperan sebagai muncikari. Sedangkan E, yang awalnya berstatus pelanggan, akhirnya disebut ikut menolong AR membuka rekening untuk menampung uang dari hasil prostitusi.

Pelaku utama pada kasus ini adalah AR yang disebutkan oleh pihak Kepolisian. Dia ditangkap di Cipayung, Bogor, Jawa Barat, akhir Agustus. Pada penangkapan itu, polisi menemukan delapan korban prostitusi, dimana tujuh lainnya di bawah umur.

Secara keseluruhan ada 148 bocah yang jadi korban kejahatan AR. Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah seiring pembeberan kasus. Korban jaringan bisnis seks itu saat ini ditampung di rumah singgah. Pemerintah berjanji akan menjamin pendidikan serta pengobatan psikologis.

Komentar

Loading...