Penguatan Harga Batubara, Saham Tambang Jadi Unggulan

Penguatan Harga Batubara, Saham Tambang Jadi Unggulan

155

Penguatan Harga Batubara, Saham Tambang Jadi Unggulan

Blok pertambangan kembali merajai indeks sektoral di bursa saham dalam negeri selama pekan ini karena dibantu dari penguatan harga batubara.

Berdasarkan catatan Bursa Efek Indonesia (BEI), saham sektor pertambangan naik 2,51 persen ke level 1.184 pada pekan ini dibanding indeks tambang pekan lalu yaitu 1.155.

Sementara, masih ada tiga sektor lainnya yang juga menguat sepanjang pekan ini, yaitu agrikultur yang naik tipis 0,29 persen, lalu industri dasar naik 0,50 persen, dan aneka industri naik 0,93 persen.

Sementara itu, indeks lainnya mengalami pelemahan, terutama indeks sektor infrastruktur yang turun 3,34 persen ke level 1.084 dibandingkan dengan pekan lalu di angka 1.121.

Penguatan saham sektor pertambangan disebabkan naiknya harga batubara sejak awal pekan ini menjadi US$70,75 per ton dari yang sebelumnya berkisar US$68 per ton.

Analis Lautandhana Securities Krishna Setiawan mengatakan, harga batu bara sepanjang pekan ini telah berhasil menyentuh level baru tertinggi untuk tahun ini. Bahkan, harga tersebut hampir menyamai level tertinggi tahun 2015.

“Harga tertinggi batubara tahun lalu itu US$71,1 per ton. Jadi tinggal dikit lagi,” ucap Krishna, Jumat (9/9).

Dengan begitu, ia melihat emiten yang bergerak dalam bisnis batu bara menjadi penyumbang terbesar kenaikan indeks sektor tambang pekan ini. Emiten tersebut misalnya saja PT Adaro Energy Tbk, PT Bukit Asam Tbk, dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk.

Tak hanya baru bara, harga timah juga kembali bangkit ke level tertinggi terbarunya tahun ini, yakni US$19.700 per ton. Lagi-lagi, harga tersebut hampir menyamai harga timah tertinggi tahun lalu yaitu US$19.900.

Sementara, saham sektor infrastruktur, kata Khrisna, sangat berkaitan dengan pemberitaan makro. Di mana pemerintah menurunkan target pertumbuhan ekonomi dari 5,2 persen menjadi 5,1 persen. Selain itu, perolehan dana amnesti pajak yang lagi-lagi masih mempengaruhi laju sektor infrastruktur.

“Begitu makro terganggu, saya rasa infrastruktur ikut turun. Sektor ini memang yang terkena pertama kali kalau makro Indonesia jelek,” ungkapnya.

Komentar

Loading...