Ahli Toksikologi : Meninggalnya Mirna Bukan karena Sianida

Ahli Toksikologi : Meninggalnya Mirna Bukan karena Sianida

177

Ahli Toksikologi . Meninggalnya Mirna Bukan karena Sianida

Budiawan, seorang ahli toksikologi dari Universitas Indonesia menyatakan bahwa Wayan Mirna Salihin meninggal bukan karena sianida.

Menurut Budiawan, kadar 0,2 miligram per liter sianida yang ditemukan dalam lambung Mirna, berasal dari proses alamiah. Bisa saja sianida itu bersumber dari makanan yang terdapat senyawa nitrat di dalamnya kemudian berinteraksi menjadi sianida.

“Bisa sianida itu dari sisa-sisa atau proses alamiah dalam tubuh. 0,2 miligram per liter sianida ini kemungkinan karena ada formalin dan kejadian kimia pascakematian,” tutur Budiawan dalam kesaksian di sidang kasus kopi beracun di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Walaupun begitu, Budiawan menekankan bahwa ahli toksikologi tak berkuasa untuk memvonis kematian seseorang akibat racun.

Menurutnya, ahli toksikologi hanya berhak pada segi penilaian risiko potensi kematian. “Saya berpendapat cause of death bukan wewenang saya, itu wewenang kedokteran forensik,”  ujarnya.

Penjelasan Budiawan itu berkebalikan dengan keterangan ahli toksikologi dari Pusat Laboratorium Forensik Mabes Polri, Nursamran Subandi yang didatangkan Jaksa Penuntut Umum beberapa waktu lalu.

Kadar 0,2 miligram per liter dalam lambung ini diketahui setelah tiga hari Mirna meninggal. Jadi tak menutup kemungkinan dosisnya berkurang karena sudah diserap oleh tubuh.

Slamet Purnomo, dokter Ahli Forensik  Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta mempercayai bahwa racun sianida yang ditemukan dalam lambung Mirna bersumber dari luar tubuh. Hal ini disibak oleh Slamet saat menjadi saksi dalam persidangan Agustus silam.
“Racun itu pasti dari luar. Tidak mungkin dimasukkan dari tubuh. Dari CCTV juga terlihat korban minum sesuatu”, tutur Slamet Purnomo.

Komentar

Loading...